LANGKAT — Anggota DPRD Sumatera Utara Fatimah mengajak siswa MAN 3 Langkat memaknai kemerdekaan dengan berani mengejar cita-cita, bersungguh-sungguh menempuh pendidikan, dan bertanggung jawab atas pilihan hidup. Pesan tersebut disampaikan saat Fatimah berbagi kisah perjuangannya dalam rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di MAN 3 Langkat, Sabtu (15/8/2026).
Di hadapan para pelajar, Fatimah mengajak mereka tidak hanya mengenang jasa para pahlawan, tetapi juga memahami bahwa kemerdekaan harus diisi dengan perjuangan untuk membangun masa depan. Ia kemudian membagikan kisah hidupnya dalam menempuh pendidikan di tengah keterbatasan ekonomi, mulai dari berjualan sejak SMP, menumpang tinggal di rumah gurunya, hingga akhirnya menyelesaikan pendidikan tinggi dan dipercaya menjadi anggota DPRD Sumatera Utara.
Kisah tersebut mendapat apresiasi dari Kepala MAN 3 Langkat, Edi Sahputra, S.Pd.I., MM. Ia menilai perjalanan pendidikan dan keteguhan Fatimah dapat menjadi inspirasi bagi para siswa untuk memahami arti perjuangan dalam meraih keberhasilan.
“Kami menilai Ibu Fatimah merupakan sosok yang inspiratif. Saya kenal betul dengan beliau, bagaimana perjuangan beliau dalam berkomitmen menyelesaikan pendidikannya, sikap tegas dan berprinsipnya yang tetap teguh, yang tidak heran bisa membawanya menjadi seorang wakil rakyat hari ini,” ujar Edi.
Sejak duduk di bangku SMP, Fatimah telah berusaha memenuhi kebutuhan sendiri dengan berjualan. Ketika melanjutkan pendidikan di MAN 2 Tanjung Pura, kondisi ekonomi keluarganya membuat ia harus menumpang tinggal di rumah salah seorang guru SD yang kemudian mengangkatnya sebagai anak. Bahkan, pengalaman menahan lapar pernah menjadi bagian dari perjuangannya menyelesaikan pendidikan.
Meski menghadapi berbagai keterbatasan, keinginan Fatimah untuk melanjutkan pendidikan tidak berhenti. Pada 2009, ia memperoleh beasiswa Mobile Oil dari PT Kaltex dan menjadi satu-satunya mahasiswa jurusan Biologi yang mendapatkan beasiswa tersebut.
Selama menjalani kuliah, Fatimah juga aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ia mengajar mengaji sebagai pekerjaan tambahan. Berbagai pengalaman tersebut membentuk ketangguhan dirinya dalam menghadapi kesulitan.
“Sejak kecil saya terbiasa memikirkan, besok saya makan apa, apa yang bisa saya masak untuk besok. Karena itu saya mulai terbiasa dan tanpa sadar menjadikan mental saya bukan sekadar seorang pejuang, tetapi juga pertarung,” ungkap Fatimah.
Pengalaman tersebut kemudian menjadi pesan yang ia titipkan kepada para siswa. Fatimah meminta mereka tidak menjadikan kondisi ekonomi keluarga sebagai batas untuk memiliki cita-cita dan memperjuangkan pendidikan.
“Bermimpilah setinggi-tingginya dan jangan menyerah untuk menempuh pendidikan setinggi-tingginya, walaupun saat ini adik-adik merasa kemampuan keluarga tidak memungkinkan. Tetap dekatkan diri kepada Allah, minta kepada Allah untuk membantu kita mewujudkan semuanya. Allah Maha Kaya dan tidak ada yang mustahil bagi-Nya,” pesannya.
Fatimah menilai semangat perjuangan para pahlawan perlu diteruskan oleh generasi muda dalam bentuk yang berbeda. Jika dahulu perjuangan dilakukan untuk merebut kemerdekaan dari penjajahan, kini perjuangan diwujudkan dengan membangun diri dan menjauhkan berbagai hal yang dapat menghambat masa depan.
“Dulu para pahlawan berjuang agar kita merdeka dari penjajahan. Hari ini tugas kita adalah menjaga kemerdekaan dengan membebaskan diri dari kebodohan, kemalasan, pergaulan buruk, kecanduan teknologi, dan ketakutan untuk menjadi diri sendiri,” katanya.

Menurut Fatimah, kemerdekaan tidak dapat dimaknai sebagai kebebasan tanpa batas. Kebebasan harus disertai akhlak, kesadaran, dan tanggung jawab dalam menentukan pilihan.
“Karena orang yang benar-benar merdeka bukanlah orang yang bebas melakukan apa saja, tetapi orang yang mampu memilih yang benar dan berani bertanggung jawab atas pilihannya,” ujarnya.
Ia kemudian mempertegas pesan tersebut dengan mengajak para siswa menggunakan kebebasan untuk memilih hal-hal yang baik dan siap mempertanggungjawabkan setiap keputusan.
“‘Saya bebas’ tidak berarti ‘saya boleh melakukan apa saja’, melainkan ‘saya memiliki kebebasan untuk memilih yang baik dan bertanggung jawab atas pilihan saya’,” tegas Fatimah.
Pesan Fatimah di hadapan siswa MAN 3 Langkat menempatkan pendidikan, keberanian bermimpi, dan pembentukan karakter sebagai bagian dari cara generasi muda mengisi kemerdekaan. Perjuangan generasi saat ini tidak lagi dilakukan di medan perang, tetapi melalui kesungguhan belajar, kemampuan menentukan pilihan, dan kerja keras mempersiapkan masa depan.
Perjalanan Fatimah dari anak desa dengan segala keterbatasannya hingga dipercaya menjadi anggota DPRD Sumatera Utara menjadi gambaran nyata dari pesan tersebut. Keterbatasan tidak harus menjadi batas untuk belajar dan meraih cita-cita ketika disertai ketekunan, keberanian, dan kemauan untuk terus berjuang.


Leave a Reply